El Adriani (Kaltim-Indonesia) KUNTUM SATU

El Adriani (Kaltim-Indonesia)

KUNTUM SATU

~ Kelopak Satu
Malamku dan malammu
Mengkotak kuntumkuntum rindu
Kekasih
Mimpi adalah kurir yang akan menghantarkannya
Ke istana nyata kita

~ Kelopak dua
Meja makan
Lilin
Aku dan malam
Merajut bayangmu
Dalam secangkir sunyi
Kendi Cafe

~ Kelopak tiga
Kata yang ku susun luruh berguguran
Saat mendengar langkah kakimu
Duhai wahai pesona
Engkaulah puisi indah
Tanpa di gubah

 

KUNTUM DUA

~ Kelopak satu
Aku mau menuliskan apa
Baru mengingat namamu saja
Aksaraku sudah remuk

~ Kelopak dua
Kau membawa satu notnya
Menghapus liriknya
Hingga musikku
Tak jadi lagu
Bukan pula instrument

~ Kelopak tiga
Aku pulang dari Tenggarong
Dengan sebaris puisi
Tentang sebentang selendang kuning
Yang bergenang linang
:kekasih berpulang

~ Kelopak empat
Awan berarak megah
Diatas mahakam yang anggun membentang
Sepoi angin sore berhembus tenang
Wanita menapak tilasi rindu yang pernah pasang
Lalu surut
Hanya layak tuk di kenang

~ Kelopak lima
Masih
Tak letih jarijariku
Mengetikan kata rindu
Bahkan mulai trampil
Di tempa kepergianmu

KUNTUM TIGA
~ Kelopak satu
Diamlah Queen
Sudah hentikan tangismu
Aku memahaminya
Tapi dia tidak
Maafkan aku
Yang tak dapat menjaga matamu
Nak
Setiap tetes yang luruh itu
Belati di hatiku

~ Kelopak dua
Dan aku meresapi saja
Betapa cemburu itu mencakar cabik
Merasuk tusuk palung hati
Sekuat diri menahan
Melumbar pedih perih dalam senyum
Seolah tak terjadi apaapa

~ Kelopak tiga
Hanya ingin diam
Menikmati tebasanmu
Lakukan lagi!
Hatiku ini terlalu kuat
Belum mati jika hanya sekali
Terus
Terus
Terus
Aku menikmati dalamnya
Dalam diam
Diamdiam

~ Kelopak empat
Biarkan aku memelukmu
Menumpahkan rasa rindu
Kali ini saja
:sungguh
Aku tak akan menceritakan perih
Ku kabarkan pada penghuni langit dan bumi
Bahwa aku mencintaimu
Sekalipun luka tersiram cuka
:benar
Cintaku selalu membilasnya dengan sabar

~ Kelopak lima
Lalu ku teguk bercawancawan sunyi
Kerinduan menyerasi di nadi
Setiap denyut tergetak namamu
Duhai wahai buluh perindu
Senyum mu mengguraui sepiku
Jatuh air mata merangkaki waktu

~ Kelopak enam
Kau telah membaca aksara jiwaku
Aku umpama sebaris kalimat tak pupus
Kehilangan makna
Laiknya phonem tak tertejemah
Merecau bunyi tak berarti

~ Kelopak tujuh
Aku yakin rimba dan segala tantangannya dapat kau taklukan
Demi Harapan kita
Demi rencana kita
mohon jangan kecewakan aku
Jangan terlantarkan mimpiku
Pulanglah dengan selamat prajurit
Ada banyak doa buatmu

KUNTUM EMPAT
~ Kelopak satu
bahwa jangankan melihat wajahnya
mendengar suaranya pun aku tak pernah
dia mengambil sedikit demi sedikit hatiku dengan bahasanya
membawanya pergi entah kemana
meninggalkan aku dalam pecahan mimpi yang berhamburan
pertemuan di Coffee topee hanyalah sebuah legenda
ku tuliskan akhir kisah ini di sela-sela kesakitan bekas hempasan tadi siang

~ Kelopak dua
Paragraph pertama
Cinta menyapa
Wanita bermanja
Draftdraft asmara

Paragraph kedua
Mimpi tak nyata
Wanita berduka
Mengetik derita

Paragraph ketiga
Cinta meluka
Wanita hanya tertawa
Ini sudah biasa katanya
Mengusaikan cerita

~ Kelopak ketiga
Nikmati saja
Itu kopi terakhir kita
Selepas hari ini kita akan menempuh jalan masingmasing
Kita telah menyimpan janji pada hati lain
Meski hati aku dan engkau itu rindu tuk saling memiliki
Kita sama menyadari bahwa hati kita berhalang bergunung
Hingga hanya dapat kita saling bertemu pandang jika menatap bulan
Tataplah aku lekatlekat
Karna setelah hirup terakhir dan kita tinggalkan tempat ini
Kau dan aku harus saling mengkafani angan

~ Kelopak empat
Tak dapat berkata apaapa
Ketika kehangatannya membekap hatiku
Dia begitu tangguh tak jenuh seperti tetes air pada batu
Merelakan dirinya menjadi pijakan
Demi melindungi kakiku dari bebatu
Begitu setianya seperti bulan pada malam
Kerelaannya seperti embun yang ikhlas tias oleh mentari
Dia
Keangkuhanku runtuh
Pada kegigihan
Kesetiaan dan pengorbanannya
Pesonanya merajai hatiku

~ Kelopak lima
Aku melihatnya dalam mimpi tadi siang
Senyum manis
Mata teduh milikmu itu
Ah
Pesonamu makin kental
Hatiku makin hijau
Saat segelas juice alpokat
Mendekatkan wajahmu
Pada wajahku
Aah
Baru mimpi saja sudah mendebur debarkan rasaku
Kau
Mmm

~ Kelopak enam
Serupa titiktitik embun menyentuh daun
Yang hampir kering
Jatuhnya lembut dan tak membuat daun lepas
Dari ranting
Menserasikan kesegaran
Mensinergikan kekuatan
Meninggalkan jejak rindu ketika tias
Menyelinap resah di tubuh daun

~ Kelopak tujuh
Dia
Seperti apa harus ku umpamakan
Matanya lebih indah dari telaga
Bahasanya lebih menenangkan dari hembus angin sore
Berada di dekatnya aku merasa terlindungi
Tak takut bahaya tak takut luka
Dia
Ada banyak angan tentangnya
Seperti tongkat yang menopangku dari kerapuhan
Dia
Menyulut semangatku dengan kebijaksanaan tutur katanya
Membuatku merasa selalu berada di negri para putri
Dengan sanjung puji-pujinya
Membuatku seperti anak kecil yang selalu merengek penuh kemanjaan
Ketika ingin coklat atau ice cream
Ahh…dia..

~ Kelopak delapan
Betapa sangsainya rindu
Di tanak tak pernah masak
Luka beranak pinak di benak
Kau dan aku
Hati kita telah terlampau mewujud air
Yang selamanya tak akan pernah memunculkan ukiran
Sekalipun seribu pemahat datang mengukir
Kecuali jika keajaiban menyihir hati kita
Berwujud semula kayu
Semula batu

~ Kelopak sembilan
Dia menitahkan seru padanya
Meminta mereka menggiring
Usai pentasnya
Mereka mengaraknya
Dengan kereta penuh bungabunga
Kendaraan beroda manusia
Tahlil menggema akhiri pengembaraannya

 

  • El Adriani. Seorang guru yang mengabdi di pedalaman Kalimantan Timur-atau tepatnya di sebuah Sekolah dasar di Kecamatan Kota bangun Kabupaten Kutai kartanegara. Sambil mengajar, dirinya juga meneruskan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Samarinda. Baginya hari-hari adalah puisi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: