Lan Fang (Kalimantan Selatan-Indonesia) …. Saat-saat kutulis bagian tengah buku ini di ujung kakinya …


Berikut ini  puisi Lan Fang yang terdapat di pembukaan novel Kembang Gunung Purei ;

 


Saat-saat kutulis bagian tengah buku ini di

Ujung kakinya…

Saat-saat tidak bias menyelesaikan bagian akhir

Buku ini…

Karena…

Ia memberiku…

Tidur panjang yang cantik…

Mati indah,

Tapi meninggalkan ngilu dalam dan panjang…

Sehingga…

Buku ini…

Tidak pernah selesai…..

 (***** sby, 5 Agustus 2003 *****)

 

Go Lan Fang atau yang lebih dikenal dengan nama Lan Fang dilahirkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tanggal 5 Maret 1970. Alumni Fakultas Hukum Universitas Surabaya ini lebih memilih mencari nafkah dari menulis dibanding memanfaatkan gelar sarjana hukumnya. Terlahir sebagai perempuan keturunan Tionghoa, tak menghentikan Lan Fang untuk membagikan ilmunya ke setiap orang tanpa memandang perbedaan. Ia bahkan tak sungkan masuk ke pesantren untuk memberikan pelatihan menulis. Ia juga secara rutin aktif membimbing para pelajar di berbagai sekolah di Surabaya dalam sejumlah penulisan kreatif. Lan Fang mulai menulis cerita sejak 1986. Karya-karyanya menjuarai lomba di tabloid Nyata dan novelette Femina 1998, 1999, 2003 dan 2005.  Beberapa karyanya yang lain adalah: Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-Laki Yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007) dan Lelakon (2007). Novelnya Lelakon menjadi nomine Khatulistiwa Award 2008. Cerpen-cerpennya  masuk ke dalam 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009. Selain itu, cerita bersambung buah tangan Lan Fang berjudul Ciuman Di Bawah Hujan pun dimuat di harian Kompas tahun 2009 dan kemudian diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama sebagai novel dengan judul yang sama pada Maret 2010. Lan Fang juga menerbitkan buku cerita anak: Kisah-Kisah Si Kembar Tiga (2009). Lan Fang lahir dari  pasangan Johnny Gautama dan Yang Mei Ing  anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya bernama Janet Gautama. Walaupun terlahir dalam keluarga keturunan Cina yang cukup konservatif dan lebih berkonsentrasi kepada dunia bisnis, Lan Fang sudah suka menulis dan membaca sejak usia sekolah dasar. Buku-buku Enid Blynton, Laura Ingals Wilder, atau sekadar majalah anak-anak, seperti Bobo dan Donal Bebek, telah mengantar imajinasinya ke dunia lain. Di sekolah pun, pelajaran kesukaannya adalah pelajaran Bahasa Indonesia, terutama mengarang. Sebetulnya keinginan Lan Fang untuk menulis cerpen sudah mulai ada sejak SMP ketika bacaannya mulai beralih kepada majalah-majalah remaja seperti Anita Cemerlang dan Gadis. Tetapi karena dianggap “ganjil” dan “tidak tertangkap mata” oleh keluarganya, tidak ada motivasi kuat untuk mempertajam talentanya. Keinginan menulis itu pun terlupakan begitu saja. Ketika ia berusia 13 tahun, ibunya meninggal dunia karena kanker otak yang ganas. Sejak itu ia selalu merasa dirinya tidak lengkap, namun cinta pertamanya pada seorang pemuda di usia 15 tahun, memberinya inspirasi yang tak pernah kering. Walaupun bukan penulis, tetapi pemuda itu telah memberikan ruang gerak yang luas dan waktu yang tidak terbatas pada Lan Fang sehingga memacunya untuk berkarya. Ketika semua isi kepala dan hatinya itu dituangkan ke dalam tulisan dengan sangat lancer, Lan Fang merasa takjub ketika menyadari tulisan itu sudah berbentuk cerita. Sekadar iseng, ia kemudian mengirim cerita pendek pertamanya yang berjudul Catatan Yang Tertinggal itu ke majalah Anita Cemerlang pada tahun 1986. Ternyata cerpen tersebut langsung dimuat sebagai cerita utama di halaman depan. Setelah itu Lan Fang jadi ketagihan menulis. Ketika menulis, ia menemukan dimensi baru tanpa ruang dan waktu, tempat ia bias merasa bebas melompat-lompat dari dunia satu ke dunia lain. Ia merasa bebas mengungkapkan apa yang ia pikirkan, rasakan, bayangkan, pertanyakan, tanpa adanya benturan dengan batasan-batasan. Pada periode 1986-1988, ia cukup banyak menulis cerpen remaja yang bertebaran di majalah-majalah remaja seperti Gadis, terutama Anita Cemerlang. Kebanyakan cerpen yang ia tulis bernapaskan cinta dengan banyak pengaruh tulisan Kahlil Gibran. Sejak tahun 1997, ibu dari kembar tiga ini berulang kali memenangkan berbagai lomba penulisan. Di tahun tersebut, cerbernya Reinkarnasi menjadi Juara Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina dan cerpennya Bicara Tentang Cinta, Sri… menjadi Juara II Lomba Cerpen Tabloid Nyata. Di tahun 1998, karyanya yang berjudul Pai Yin menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina. Di tahun yang sama cerpennya Bayang-Bayang pun menjadi Pemenang II Lomba Mengarang Cerpen Femina. Selain itu, cerpen Ambilkan Bulan, Bu… menjadi karya layak muat untuk Femina. Ia sempat vakum selama lima tahun dari dunia tulis-menulis, karena sibuk berkonsentrasi dalam merintis karier di sebuah bank nasional swasta di Surabaya sampai tahun 2000. Saat ini, ia bergabung di sebuah perusahaan asuransi jiwa asing di kantor cabangnya di Surabaya. Akhirnya pada tahun 2003 ini, Lan Fang berhasil menyelesaikan tulisannya yang mengendap selama jangka waktu itu. Karyanya yang berjudul Kembang Gunung Purei tersebut pun menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Novel Femina 2003. Dalam kesehariannya, ibu dari Vajra Yeshie Kusala, Vajra Virya Kusala, dan Vajra Vidya Kusala ini sangat mensyukuri keberadaan 3 Vajra = 3 Kekuatan yang di-milikinya sebagai sumber semangat dan motivator kuat untuk selalu bisa bertahan di saat-saat sulit.

Lan Fang tutup usia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura pada tanggal 25 Desember 2011 dalam usia 41 tahun akibat mengidap penyakit kanker hati dengan meninggalkan tiga orang putra kembar yang masih berusia 13 tahun. Dua putra bernama Vajra Viria Husala dan Vajra Vidya Husala serta seorang putri bernama VajraYeshi Husala. Sonata Musim Kelima (2012) & Kumpulan Puisi Ghirah Gatha (2012) adalah dua buku yang diterbitkan setelah sang penulis meninggal dunia dan menjadi karya yang akan kita kenang dari seorang perempuan hebat dalam jagat sastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: