Mahabbah El-ahmady (Kaltim-Indonesia) TERUNTUK KAU, SUAMIKU


TERUNTUK KAU, SUAMIKU

oleh Mahabbah El-ahmady

 

Kepadamu yang telah menjadi pendampingku, terima kasih kerana telah memilihku di antara ribuan bidadari di luar sana yang siap untuk kamu pilih. Padahal kamu begitu tahu, aku hanya wanita biasa, yang sangat jauh dari sempurna. Karenanya ku ingin kamu tahu, aku bukan wanita yang sempurna, aku begitu banyak kekurangan. Maka ketahuilah….

Kepadamu yang telah memilihku ….

Aku tak sebijak Siti khadijah, karenanya ku ingin kamu tahu, aku akan  berbuat salah dan begitu membuatmu kesal. Maka kumohon padamu, bijaklah dalam menghadapiku, jangan marah padaku, nasihati aku dengan hikmah, kerana bagiku kamulah pemimpinku, tak akan berani ku membangkang padamu, dan membentak apa yang kamu katakan…semuanya aku berusaha tuk mentaatimu sepanjang hari, bulan, hingga tahun, sampai bertahun-tahun aku bersamamu.

Duhai kau yang telah memilihku ….

Ingatlah, tak selamanya aku akan cantik di matamu, ada kalanya aku akan begitu kusam dan bodoh. Mungkin kerana aku begitu sibuk di dapur, menyiapkan makan untuk kamu dan anak anak kita nanti. Maka aku akan tampak kotor dan berbau asap. Atau karena seharian ku harus meguruskan istana kecil kita, agar kamu dan anak kita dapat tinggal dengan nyaman dan damai. Maka mungkin aku tak sempat berdandan untuk menyambutmu sepulang bekerja.. Ataukah kamu akan menemukanku terkantuk-kantuk saat mendengar keluhan dan ceritamu, bukan kerana aku tak suka menjadi tempatmu menumpahkan segala rasamu, tapi karena semalam saat kau tertidur dengan nyenyak, aku tak sedetikpun tertidur karena harus menjaga anak kecil kita yang sedang sakit, dan ku tau kamu letih mencari rezeki untuk kami maka tak ingin ku mengusik sedikit pun lelapmu…. Jadi jika esok pagi kau mendapatiku begitu letih dan ada lingkaran hitam di mataku, maka tetaplah tersenyum padaku, kerana kau adalah kekuatanku..

Padamu yang menjadi nahkoda dalam hidupku….

Ketahuilah, aku tak sesabar Fatimah, ada kalanya kau akan menemukanku begitu marah, menangis , bukan karena ku membangkang, atau manja padamu, tapi aku hanya wanita biasa, aku juga perlu tempat untuk menumpahkan beban di hatiku, tempat untuk melepaskan penatku, dan mungkin saat itu aku tak menemukanmu, atau kau begitu sibuk dengan pekerjaanmu, maka bersabarlah, yang ku perlukan hanya pelukan, belaianmu dan cinta kasihmu yang suci…. Kerana bagiku kau adalah titisan embun yang mampu memadamkan segala resahku, dan penatku….

Ketika anak-anak crewet… Ada kalanya tanganku akan mencubit dan memukul penuh kasih sayang si kecil kerana lelah dan penatku di tambah rengekannya yang tak habis-habisnya. Sungguh bukan kerana ku ingin menyakitinya, tapi kadang aku kehabisan cara untuk menenangkan hatinya. Maka jangan memarahiku kerana telah menyakiti buah hati kita, tapi cukup kau usap kepalaku, dan bisikkan kata sayang di telingaku, kerana dengan itu ku tau kamu selalu menghargai semua yang ku lakukan untuk kalian, dan kamu akan menemukanku menangis menyesali perlakuanku pada anak kita, dan aku akan merasakan ribuan kali rasa sakit dari cubitan yang ku berikan padanya, dan aku akan berjanji tak akan mengulanginya lagi..

Padamu yang menjadi imam dalam hidupku ..

dalam pelukan cinta kasihmu aku selalu mengharap diriku sebagai makmum yang menurut apa maumu, engkau sebagai imamku yang tak pernah lengah dalam kewajibanmu pada ku….mungkin terkadang engkau berat tuk memimpin aku..ya memang diriku adalah sosok wanita yang belum sefaham seperti engkau.

Ketahuilah, aku tak secerdas Aisyah.. Maka jangan pernah bosan mengajariku, membimbingku ke arah-Nya, walau kadang aku begitu bebal dan bodoh, tapi jangan pernah letih mengajariku.. Jangan segan membangunkanku di sepertiga malam untuk bersamamu bermunajat pada Kekasih yang Maha Kasih.. Jangan letih mengingatkanku untuk terus bersamamu mendulang pahala dalam amalan-amalan sunnah.. Bimbing tanganku ke JannahNya, agar kamu dan aku tetap bersatu di dalamnya.

Padamu yang menjadi kekasih hati dan teman dalam hidupku..

Seiring berjalannya waktu, kamu akan menemukan rambutku yang dulu hitam legam dan indah, akan menipis dan memutih. Kulitku yang bersih akan mulai kereput. Tanganku yang halus akan menjadi kasar.. Dan kau tak akan menemukanku sebagai wanita cantik, yang kau khitbah puluhan tahun yang lalu.. Bukan wanita muda yang selalu menyenangkan matamu.. Maka jangan pernah berpaling dariku.. Karena satu yang tak pernah berubah, bahkan sejak dulu akan terus bertambah dan kian bertambah, yaitu rasa cintaku padamu..

Ketahuilah.. Tiap harinya, tiap jam, minit dan detiknya, telah aku lewati dengan selalu jatuh cinta padamu..Maka, cintailah aku, dengan apa adanya aku.. Jangan berharap aku menjadi wanita sempurna.. Maafkan aku kerana aku bukan puteri.. Aku hanya wanita biasa..

Sekarang tibanya kita membanggakan mujahidah-mujahidah kita yang semuanya mentaati Allah dan kita, kita tak bisa membanyangkan betapa bahagianya mempunyai mujahidah yang penghafal aquran…di sana masih banyak mujahidahku yang ingin berhasil dalam didikan kita. Semoga Allah mengabulkan semua cita-cita mujahidah-mujahidah kita.

Wahai suamiku yang tercinta…

Di akhir perjalanan hidup kita marilah kita isi dengan sejuta kebaikan yang tak pernah kita merasakan. saling mengingatkan dan menasehati, tak ada lengkang waktu yang terlewatkan.

 

  • Mahabbah El-ahmady atau Titiek Suswati alumnus STAIN Samarinda Kalimantan Timur. Suka menulis puisi, setelah tugas utamanya melayani suami dan anak-anaknya dalam urusan rumah tangga. Istri  Ahmad Abdullah, yang juga anggota parlemen di DPRD Kalimantan Timur.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: